Senin, 19 Oktober 2009

Dewasa

Pikiran-pikiran yang dialami seorang anak kecil beranjak dewasa seperti ini saya almi kemarin siang, di dalam bus yang bergerak menuju Solo. Saya sudah kuliah semester tiga sekarang, sudah 18 tahun beranjak 19, dan sudah harus menyelesaikan pendidikan S1 ekonomi. Sebenarnya kedua orangtua tidak mengharuskan kuliah cepat, tapi syukurnya saya berinisiatif seperti itu. Dan ketika ngobrol menghabiskan waktu dengan kakak tingkat, saya berpikir : saya sudah punya junior di kampus, dosen-dosen makin menampar saya dengan berbagai pertanyaan teori dan praktik yang tidak dapat saya jawab, pertanyaan-pertanyaan yang menantang sekaligus menajatuhkan mental dan mencibir wawasan saya tentang ilmu yang dipelajari. Saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen. Well, sepertinya itu masalah utama dalam tulisan ini. Tapi bukan. Yang saya pikirkan adalah, apa jadinya saya ketika 6 bulan, satu tahun, 2 tahun, atau 3 tahun ke depan dengan kondisi kemampuan terbatas saya yang sangat minim ini? Ditertawakanlah saya jika lulus sebagai sarjana dengan ilmu setara sekolah menengah atas, dan dihujatlah saya karena hanya membuang-buang waktu di kota ini berdalih untuk mencari ilmu. Ilmu yang sebenarnya yang belum benar-benar saya pahami. Berdosalah saya jika hanya menerjakan hal-hal semacam ini sementara orangtua dan dua adik saya menunggu di tempat lain, menunggu hasil menggembirakan dari seseorang yang mereke sebut "membanggakan". Dangkal. Menjadi dewasa merupakan suatu amanah, mungkin beban bagi siapa saja yang belum siap untuk tumbuh. Ketika predikat dewasa menempel, tanggung jawab dan tingkah laku diperhatikan. Hasil signifikan apa yang dapat disumbangkan untuk lingkungan, setidaknya untuk orang-orang sekitar yang setia menunggu dan terus mendukung agar kita bisa menjadi seseorang yang disebut "DEWASA". Perjalanan menjadi dewasa bisa jadi merupakan perjalan tersulit bagi sebgaian orang, penuh tantangan sekaligue menyenangkan! Satu hal yang saya sadari beberapa hari lalu adalah : menjadi dewasa tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan ketika kita merasa kita sudah melakukan yang terbaik. Dan jika mudah berpuas diri dalam mencapai kedewasaan, sayangnya hidup tidak sesimpel kelihatannya... Perenungan dalam perjalana menjadi dewasa semoga dapat membentuk pribadi kuat yang gak akan rapuh diterjang kondisi seburuk apapun. "Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan" _taken from a book, I forget the title by the way._

3 komentar:

Gandrie Ramadhan mengatakan...

menjadi dewasa memang bukan perkara mudah, sob...
:D

dodol JBhd. mengatakan...

kecemasan menuntut ilmu yang kamu alami itu manusiawi, justru saya terkagum-kagum bahwa kamu menyadari bahwa lulus S1 pun ilmu masih "cetek"--karena saya tidak melihat kecemasan itu di antara banyak mahasiswa di sini.

hidup adalah belajar. belajar adalah seumur hidup. jadilah pakar di usia yang dini. semoga kita semua mendapatkan yg terbaik!

dion librazky mengatakan...

menjadi dewasa itu tidak mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan. butuh proses mungkin cukup lama. terkadang kita tidak menyadari kalau kita sudah dewasa, karena dewasa itu akan terus berkembang seiring dengan waktu dan cara kita berfikir.

gud luck untuk menjadi dewasa.
hehehe